Ekspektasi Kinerja Emiten Kuartal I Dorong IHSG

| Editor :

Font Size:

JAKARTA - Kalangan analis menilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih punya momentum untuk menembus level psikologis 5.000 poin. Penguatan IHSG dipicu oleh ekspektasi positifnya laporan keuangan emiten pada kuartal I 2013.

Menurut Agustini Hamid, Analis PT Recapital Securities, meski minim sentimen positif dari luar negeri, tetapi dalam perdagangan dua hari terakhir IHSG mampu menguat signifikan. Pada perdagangan kemarin, level IHSG hampir mencapai level 5.000 poin ditutup di level tertinggi sepanjang sejarah 4.998,65 poin naik 1,08% dari perdagangan hari sebelumnya. Investor asing melakukan akumulasi beli bersih (net buy) sebesar Rp 618 miliar.

Menurut Agustini, penguatan IHSG kemarin didukung akumulasi beli investor domestik terutama pada saham-saham sektor telekomunikasi, perbankan, dan semen. Meski investor asing perlahan melakukan net buy, jumlahnya masih belum begitu besar dibandingkan aksi beli investor domestik.

"Jadi memang belakangan ini penguatan IHSG ditopang oleh aksi beli investor domestik yang fokus transaksinya pada saham-saham berbasis konsumsi domestik. Sementara investor asing masih cenderung wait and see melihat perkembangan situasi global meski kemarin sudah net buy lagi," kata Agustini kepada Finance Today.

Akumulasi beli investor domestik, lanjut Agustini, dipicu oleh antisipasi laporan keuangan emiten kuartal I 2013 yang diprediksi di atas ekspektasi, dan beberapa agenda korporasi seperti pembagian dividen.

Di sisi lain, penguatan IHSG dipicu oleh penguatan bursa regional (emerging market) karena optimisme peningkatan konsumsi dalam negeri. Hal tersebut diharapkan meningkatkan earnings growth dari perusahaan-perusahaan di regional Asia.

"Sentimen itu mampu menahan sentimen negatif global seperti turunnya harga emas dan pemangkasan estimasi pertumbuhan ekonomi global oleh IMF," tambah Agustini.

Agustini optimistis IHSG mampu menembus level 5.000 poin, tetapi untuk beberapa saat akan mengalami konsolidasi merespons rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi oleh pemerintah Indonesia. Hingga akhir tahun ini, Agustini tetap memprediksi level IHSG akan berada di kisaran 5.000-5.300 poin.

Thendra Crisnanda, Analis PT BNI Securities, mengatakan IHSG berpotensi besar menembus level 5.000 poin pada perdagangan hari ini. Namun, indeks tidak akan kuat bertahan lama di atas level tersebut.

IHSG masih berpotensi terkoreksi merespons kebijakan pemerintah terkait BBM bersubsidi. Kenaikan harga BBM yang akan berdampak negatif pada angka inflasi yang sudah mencapai 5,9%, jauh di atas suku bunga acuan, BI Rate 5,75%.

Menurut Thendra, jika harga BBM bersubsidi naik Rp1.500 per liter, inflasi berpeluang naik 1%-1,5% sehingga memicu sentimen negatif di pasar. "Persoalan BBM sangat sensitif terhadap politik dan sensitif juga pengaruhnya bagi IHSG," kata Thendra.

Penguatan IHSG kemarin sebenarnya di luar ekspektasi. Sebab, tidak ada satu pun katalis positif dari sentimen global. Apalagi, perekonomian China mengalami turbulensi dari sisi produk domestik bruto (PDB) yang hanya tumbuh 7,7% untuk kuartal I 2013. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan prediksi 8% ataupun dibanding kuartal sebelumnya 7,8% sehingga seharusnya menjadi sentimen negatif.

Belum lagi dengan sentimen negatif dari peristiwa bom di Boston Amerika Serikat. Kejadian itu seharusnya menjadi sentimen negatif terhadap bursa global dan berimbas negatif juga bagi bursa saham domestik.

"Penguatan IHSG termasuk anomali, seiring masih kuatnya dana asing yang masuk (capital inflow) ke pasar domestik. Setelah Eropa dan China dirasa kurang kondusif bagi investor, terjadi capital outflow dari negara tersebut dan lari ke emerging market termasuk Indoneisa yang menjadi salah satu pilihan investasi menarik. Selebihnya, tidak ada katalis positif bagi indeks," jelas Thendra.

Edwin Sebayang, Kepala Riset PT MNC Securities, memperkirakan hanya masalah waktu bagi IHSG untuk mencapai dan melewati level 5.000 poin. Apalagi rilis laporan keuangan kuartal I 2013 mulai diterbitkan oleh masing-masing emiten hari ini.

"Dimotori saham perbankan, diperkirakan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih emiten di sektor ini masih cukup kuat, serta pengumuman pembagian dividen yang cukup besar, akan menjadi katalisator bagi penguatan IHSG pada beberapa hari ke depan," ujar Edwin.

Salah satu emiten yang mengumumkan pembagian dividen cukup besar adalah PT Telekomukasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) yang mengusulkan sebesar 65% dari laba bersihnya pada 2012, atau sekitar Rp 414 per saham.

Menurut Departemen Riset Finance Today, tren penurunan yang terjadi di pasar komoditas justru memberi peluang bagi pasar ekuitas dan obligasi, meski rilis data indikator makro ekonomi beberapa nergara besar ke depan masih menawarkan ketidakpastian. Mengacu pada pernyataan Sir John Templeton, ketidakpastian merupakan lahan subur di mana market akan tumbuh.

Terkait dengan IHSG, momentum menembus 5.000 poin masih terbuka. Respons pelaku pasar terhadap aksi sell off dua hari terakhir merefleksikan ketidakpastian masih menawarkan peluang. Pada perdagangan kemarin (17/4), investor asing kembali melakukan aksi beli. Ekspektasi pelaku pasar terhadap kinerja emiten di kuartal I 2013 masih positif. Hal menarik lainnya kinerja return IHSG di bulan April relatif positif. Dalam sepuluh tahun terakhir, rata-rata return IHSG April sebesar 2,8%, sementara untuk lima tahun terakhir return rata-rata sebesar 3,5%.(*)

Tags : -

Writer: