Myanmar Kirim Utusan Khusus ke Bangladesh untuk Membahas Muslim Rohingya

| Editor : Bayu Mardianto

Muslim Rohingya yang mencoba masuk ke wilayah Banglades setelah menyeberangi sungai Naf dari Myanmar, di bawah pengawasan pasukan penjaga perbatasan Bangladesh | Foto: AFP via Channel News Asia
iyaa.com | Naypyidaw: Pemerintah Myanmar mengirimkan utusan khusus ke Bangladesh untuk membicarakan masalah ribuan Muslim Rohingya yang mengungsi dari Rakhine.

Seorang utusan khusus pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi, akan memulai pembicaraan tingkat atas di Bangladesh, Rabu (11/01/2017), dimana PBB mengatakan krisis Rohingya telah menyebabkan 65 ribu orang meninggalkan Myanmar mengungsi ke Bangladesh dalam tiga bulan terakhir.

Kyaw Tin, Wakil Menteri Luar Negeri Myanmar, menjadi utusan khusus yang akan melakukan kunjungan tiga hari ke ibukota Bangladesh Dhaka, untuk mengatasi permasalahan terbesar yang dihadapi pemerintahan dari pemenang Nobel Perdamaian, Suu Kyi, yang berusia sembilan bulan.

Adanya aliran pengungsi baru, dan laporan bahwa Angkatan Laut Myanmar telah menembak nelayan Bangladesh, telah menguji hubungan antara kedua negara bertetangga itu, yang masing-masing melihat Muslim Rohingya tanpa negara sebagai masalah lain.

Para pengamat melihat bahwa kunjungan ini menandai pergeseran dari pendekatan keengganan Myanmar untuk bekerja sama dengan negara barat, sebagai kunci untuk memecahkan krisis yang berkembang.

Pemberontak Rohingya menyerang pos perbatasan Myanmar, pada 9 Oktober 2016, yang menewaskan sembilan polisi. Menanggapi serangan itu, Myanmar kemudian mengirim tentara ke negara bagian Rakhine, yang dihuni mayoritas Muslim Rohingya.

Warga dan pengungsi telah dieksekusi, ditangkap secara sewenang-wenang, dan terjadi pemerkosaan dalam operasi itu. Pemerintah Suu Kyi membantah hampir semua tuduhan.

Selama kunjungan, dengan negara tetangganya akan membahas hubungan bilateral, tapi satu sisi, Myanmar tidak mungkin untuk membuka rumitnya masalah keamanan perbatasan, kata Aye Aye Soe, wakil direktur Departemen Luar Negeri.

"Untuk situasi perbatasan, proses operasi masih dilakukan untuk menciptakan stabilitas, jadi saya tidak berpikir akan ada banyak hasil dari pertemuan pertama kali ini," kata Soe, seperti dilaporkan Channel News Asia.

Writer: none

Berita Terkait

  1. Amnesty Internasional: Tindakan Militer Myanmar terhadap Muslim Rohingya merupakan Kejahatan Kemanusiaan

    Amnesty Internasional memperingatkan tindakan militer Myanmar dapat merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan, berdasarkan tingkat kekerasan negara terhadap minoritas Muslim Rohingya. More

  2. 11 Orang Tewas dalam Bentrokan antara Pemberontak dan Militer Myanmar

    Setidaknya 11 orang di Myanmar utara tewas selama bulan ini, pada bentrokan antara pasukan keamanan dan kelompok pemberontak bersenjata, yang melemahkan tawaran Aung San Suu Kyi untuk perdamaian. More

  3. Kofi Annan: Myanmar Hadapi Tuduhan Serius Genosida terhadap Muslim Rohingya

    Myanmar menghadapi tuduhan genosida yang sangat serius terhadap Muslim Rohingya di negara bagian Rakhine, kata mantan Sekjen PBB Kofi Annan yang juga merupakan Ketua Komisi Penasehat Rakhine. More

  4. 21 Ribu Muslim Rohingya Melarikan Diri dari Myanmar

    Sebuah laporan terbaru terkait kekerasan di Rakhine, Myanmar, menunjukkan bahwa sekitar 21 ribu Muslim Rohingya telah melarikan diri dari dugaan upaya genosida militer Myanmar, dalam beberapa pekan terakhir. More

  5. Bahas Masalah Rohingya, Menlu Retno Marsudi Temui Aung San Suu Kyi di Myanmar

    Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi, Selasa 06/12/2016, bertolak ke Naypyidaw, Myanmar, untuk membahas masalah etnis Rohingya di negara bagian Rakhine bersama State Counselor negara tersebut, Daw Aung San Suu Kyi. More

Choice