Sebanyak 3 Bom Meledak di Afghanistan, Tewaskan 43 Orang

| Editor : Bayu Mardianto

Foto: AP
iyaa.com | Kabul: Dua bom besar - salah satunya dipicu oleh seorang penyerang bunuh diri - meledak di dekat kantor pemerintah, Selasa (10/01/2017), menewaskan sedikitnya 38 orang dan melukai puluhan lainnya.

Ledakan bom itu diduga sebagai serangan Taliban yang paling mematikan di Kabul dalam beberapa bulan.

Di Afghanistan Selatan, ledakan bom lainnya terjadi di Wisma milik gubernur provinsi Kandahar, yang menewaskan 5 orang dan melukai 12 orang. Seorang duta besar dari Uni Emirat Arab dan diplomat lainnya dari UEA termasuk diantara mereka yang terluka, kata pihak berwenang.

Pembom bunuh diri di Kabul melakukan serangan sekitar 4 sore waktu setempat, saat para pekerja meninggalkan kantor pemerintah dan legislatif, kata juru bicara Kementerian Dalam Negeri, Sediq Sediqqi, seperti dilansir dari ABC News, Rabu (11/01/2017).

Bom kedua, yang ditanam di dalam mobil, meledak beberapa menit kemudian saat pasukan keamanan bergegas untuk membantu para korban, katanya.

Taliban, yang telah 15 tahun melancarkan perang terhadap pemerintah yang didukung AS, mengklaim serangan di Kabul.

38 orang tewas termasuk warga sipil dan personel militer. 72 orang terluka, kata pejabat Kementerian Kesehatan Masyarakat, Mohibullah Zeer.

Rahima Jami, anggota parlemen dari provinsi Herat di Afghanistan barat turut menjadi korban yang terluka, kata anggota parlemen lainnya, Ghulam Faroq Naziri.

Ini tampaknya menjadi serangan paling mematikan di Kabul sejak Juli, ketika dua pembom bunuh diri meledak di tengah-tengah aksi demonstrasi yang diselenggarakan oleh Hazara, kelompok etnis Muslim Syiah. Ledakan bom yang menewaskan 80 orang itu diklaim oleh afiliasi lokal dari kelompok ISIS.

Presiden Asharf Ghani mengutuk keras pemboman Kabul, dalam sebuah pernyataan dari istana presiden.

Amnesty International mengatakan pemboman menunjukkan bahwa "Taliban menekan maju dengan kampanye kekerasan mengerikan yang tidak berusaha untuk menyelamatkan nyawa warga sipil."

"Target responden pertama dalam bom mobil yang menewaskan banyak orang yang berada di jalan menunjukkan penghinaan bagi kehidupan manusia," kata Champa Patel, direktur Amnesty International untuk Asia Selatan.

Gedung Putih juga mengutuk serangan bom tersebut, dan mengatakan pemboman di Kabul: "Sebuah serangan pada bangunan Parlemen dan anggota parlemen jelas merupakan serangan terhadap upaya Afghanistan untuk membangun lembaga-lembaga demokratis."

Writer: none

Choice