Kebijakan Toilet Transgender Dicabut, Ini 5 Fakta tentang Transgender Anak

| Editor : Risnawati Avin

Foto: Ist
iyaa.com | Jakarta: Presiden AS Donald Trump mencabut aturan toilet transgender yang digagas Obama, yang sebelumnya bertujuan agar siswa dapat memilih toilet sesuai orientasi jenis kelamin yang mereka yakini.

Aturan tentang toilet transgender ini sempat memantik kontroversi ditengah anggota parlemen dan para orangtua, termasuk kelompok dokter anak yang tergabung dalam American Academy of Pediatrics. Organisasi profesional ini terdiri dari 66 ribu dokter anak.

"Ini adalah tentang merawat generasi muda kita," kata Dr. Lynn Hunt, ketua American Academy of Pediatrics divisi Kesehatan dan Kebugaran untuk Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT).

Menurutnya, anak-anak dengan transgender yang tidak merasa nyaman memasuki toilet/kamar mandi sering menahan diri untuk tidak pergi buang air sama sekali. Akibatnya, selain menimbulkan stres pada anak, menahan keinginan buang air kecil juga dapat meningkatkan risiko penyakit infeksi saluran kemih.

"Anak-anak sangat rentan terutama di sekolah, yang menjadi tempat sebagian waktunya dihabisakan," ujar Dr. Hunt

Berikut ini ada lima fakta tentang anak-anak transgender yang perlu Anda ketahui, terlepas dari sikap Anda menentang atau mendukung seperti dikutip dari laman health, Kamis (23/2):

1. Tak ada data konkret tentang jumlah anak-anak yang diidentifikasi sebagai transgender


Data pemerintah AS dari survei 2014 menunjukkan sekitar 1,3 juta orang dewasa Amerika mengidentifikasi sebagai transgender. Namun, untuk anak-anak jumlahnya belum bisa diidentifikasi.

The New York Times melaporkan bahwa Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit tidak berencana menambahkan pertanyaan tentang identitas gender pada survei kesehatan remaja hingga tahun 2019. Artinya, belum akan ada data tentang transgender anak dalam beberapa tahun ini.

2. Proses transisi transgender berbeda untuk setiap anak maupun orang dewasa


Proses transisi ini sangat pribadi dan bisa berlangsung lama. "Waktu bagi seseorang untuk dapat memahami diri mereka sendiri cukup bervariasi," lanjut Dr Hunt.

Beberapa anak mungkin sudah menyadari atau dapat mengidentifikasi diri mereka memiliki 'kelainan' karena tidak sesuai dengan jenis kelaminnya dalam waktu dua atau tiga tahun saja.

Namun, untuk anak-anak lainnya bisa jadi membutuhkan waktu lebih lama lagi, terutama jika mereka tidak dapat mengekspresikan perasaan mereka. "Anak-anak itu sebenarnya sangat pintar, mereka dapat menyembunyikan sesuatu yang mereka anggap mengganggu," kata Dr Hunt.

3. Anak-anak rentan mengalami pelecehan dan itu bisa berlangsung lama


Studi menunjukkan anak-anak transgender lebih cenderung menjadi cemas dan tertekan. Baik mendapat dukungan atau tidak, masalah transgender pada anak-anak memengaruhi kesejahteraan mereka di masa depan.

Tahun 2016, peneliti menganalisis data dari Rumah Sakit Anak Cincinnati Medical Center dan menemukan bahwa 63% dari pasien transgender usia 12 sampai 22 tahun memiliki sejarah ditindas.

Studi dengan responden sekitar 250 LGBT remaja dipublikasikan dalam American Journal of Public Health. Didalamnya ditemukan bahwa remaja LGBT yang menderita pelecehan kemudian mengalami kerusakan kesehatan mental, termasuk depresi dan gangguan stres pasca-trauma.

4. Risiko bunuh diri makin meningkat


Anak-anak dan remaja dengan transgender lebih rentan melakukan percobaan bunuh diri karena sering mendapat intimidasi dan reaksi transfobia dalam lingkungan mereka.

Penelitian di Hospital Medical Center Cincinnati menemukan bahwa 30% dari pemuda transgender yang mengunjungi pusat medis memiliki riwayat setidaknya satu kali percobaan bunuh diri. Sementara hampir 42% lainnya melaporkan riwayat mencederai/melukai diri sendiri.

Tingkat percobaan bunuh diri yang lebih tinggi sebesar 46,5% terjadi pada sekitar 6 ribu mahasiswa transgender. Penelitian ini diterbitkan dalam The Journal of Homosexsuality.

Angka tersebut melonjak menjadi 60,5% bagi siswa yang ditolak menggunakan toilet dan lingkungan kampus sebesar 60,6% terkait identitas gender mereka.

5. Penerimaan internal di lingkungan sangat membantu transgender


Riset mengatakan anak-anak transgender akan menjadi lebih baik bila tinggal di lingkungan masyarakat yang mendukungnya.

Penelitian di jurnal Pediatrics 2016 mengungkapkan anak-anak dengan transgender yang bertransisi secara sosial (mengubah ekspresi gender, memilih untuk pergi dengan nama yang berbeda, termasuk mengganti cara berpakaian dan gaya rambut mereka) karena merasa didukung memiliki tingkat depresi yang rendah bila dibandingkan dengan anak-anak yang identitas gendernya dikaitkan dengan jenis kelamin saat lahir. Lingkungan yang mendukung juga menurunkan angka percobaan bunuh diri.


Berita Terkait

  1. Tren Bayi Tabung di Indonesia Meningkat, Berikut 5 Fakta dan Perbandingan Biayanya

    Meski disebut relatif terjangkau, namun biaya program bayi tabung di Indonesia masih lebih mahal dibandingkan negara Asia lainnya. More

  2. Atasi Banjir dan Bersihkan Jakarta, Video Pasukan Oranye Menyelam di Air Kotor Bikin Terenyuh

    Dalam video, seorang petugas kebersihan tampak menyelam ke dalam gorong-gorong untuk mengambil sampah yang bercampur lumpur tanpa peralatan apapun. More

  3. Musim Hujan, Hati-hati dengan 7 Penyakit 'Langganan' Ini

    Genangan air yang terjadi pasca banjir dapat menimbulkan sejumlah penyakit langganan di musim penghujan, salah satunya leptospirosis. More

  4. Bintik di Wajah Jadi Tren Tato Freckles, Ini 5 Faktanya!

    Tren tato untuk kecantikan memang bukan hal baru, sebelumnya ada tato untuk alis dan bibir. Ini dia fakta tentang tato bintik yang menjadi tren dunia. More

  5. Kedinginan? Hangatkan Tubuh dengan Makanan dan Minuman Ini

    Makanan dan minuman hangat ini cocok untuk Anda konsumsi saat beraktivitas di musim hujan karena dapat menjaga kondisi tubuh tetap sehat dan bugar. More

Choice